TIPS MERENCANAKAN STRUKTUR DIPROGRAM ETABS
Program Etabs adalah program perhitungan struktur yang dilengkapi dengan fitur-fitur, yang dimana input yang kita masukkan dalam program adalah dimensi struktur dan pembebanan, kemudian akan dihasilkan outputnya yaitu berupa nilai momen, aksial, geser, deformasi struktur dan gaya-gaya lainnya. Dengan demikian hasil output akan menjadi nilai kuat rencana harus lebih besar dari kekuatan yang terjadi, untuk dilakukannya perencanaan struktur.
Hal - hal dalam merencanakan struktur di program etabs
- Sesuaikan Sistem perencanaan perhitungan struktur dengan standar yang berlaku di Indonesia yaitu untuk perencanaan bangunan dengan menggunakan Beton, gunakan peraturan SNI 03-2847-2002, untuk baja 03-1729-2002. Misal dalam Etabs kita perlu memperhitungkan nilai - nilai faktor reduksi, kemudian sistem kombinasi pembebanan. Etabs memiliki standar misal ACI dan ASTM. Standar luar negeri bisa juga dipakai, namun alangkah lebih baiknya menggunakan SNI.
- Pentingnya memperhatikan satuan yang kita pakai dalam menginput data struktur. Misal Modulus Elastisitas beton adalah 4700 x (f'c)^1/2, hati-hati jikalau kita menggunakan satuan, pakailah satuan yang sama untuk menginput data disatu tampilan input. Dari modulus elastisitas beton menggunakan satuan MPa, maka secara langsung untuk menginput data yang lain dalam tampilan input yang sama, maka dalam penginputan gunakan kembali N/mm (MPa) misal untuk mengisi nilai Fy. Seringkali ditemukan nilai momen aneh, itu disebabkan penginputan data yang salah.
- Beban yang bekerja juga harus diperhatikan, terlebih lendutan yang dihasilkan atau simpangan maksimum. Beban yang bekerja misal, beban mati, hidup, tambahan elektrikal/mekanikal, gempa, angin dan beban lainnya sesuai peraturan SNI yang berlaku. Peraturan pembebanan yang biasanya digunakan adalah PPURG 1987 atau 1989.
- Perhatikan hasil momen yang terjadi, ataupun gaya-gaya lain yang dihasilkan, misal hasil geser, aksial, dan gaya output lainnya. Bila diperlukan cek, sekilas namun harus seksama. karena jika tidak, bisa saja karena ada beban yang tidak diinput, maka akan terjadi kegagalan struktur. Sebagai contoh jika kita lupa memasukkan beban gempa, otomatis kebutuhan tulangan berkurang, nah hal ini perlu diwaspadai.
- Beban gempa dapat diinput dengan sistem respons spektrum atau secara dinamik tercantum dalam SNI Gempa 03-1726-2003. Hal ini perlu dilihat juga nilai R dalam bentuk atau penggunaan struktur. Sudah ada sosialisasi SNI Gempa terbaru yaitu 2010. Sebenarnya di Etabs pun sudah ada, namun banyak faktor-faktor yang harus kita perhatikan juga agar diusahakan sesuaikan SNI yang berlaku di Indonesia.