BETON PRATEGANG


Keberhasilan pembangunan suatu bangsa tidak terlepas dari peran serta aktif sektor transportasi sebagai urat nadi kehidupan ekonomi, sosial budaya, politik dan pertahanan keamanan. Dalam rangka mewujudkan system transportasi yang handal dan berkemampuan tinggi, sarana dan prasarana yang memadai merupakan sebuah tuntutan yang harus dipenuhi. Salah satu prasarana transportasi yang sangat vital adalah jembatan.
Jembatan merupakan bangunan pelengkap jalan yang mempunyai dua fungsi utama, yaitu sebagai alat penghubung antara ruas jalan yang terputus oleh berbagai kondisi, misalnya sungai, lembah dan lain-lain, serta sebagai prasarana pergerakan barang dan jasa. Salah satu jenis jembatan yang banyak dijumpai di Indonesia saat ini yakni jembatan beton prategang, dimana balok prategang digunakan sebagai gelagar induk.  
Jika dibandingkan dengan kayu, beton bertulang atau baja, penggunaan beton  prategang  pada  struktur  atas  jembatan masih tergolong relatif baru. 
Pertama-tama digunakan kayu, kemudian baja struktural, beton bertulang dan akhirnya dikembangkan beton prategang (Lin, 2000). Beton prategang merupakan kombinasi yang ideal dari dua  bahan  yang berkekuatan tinggi modern, yaitu beton dan baja mutu-tinggi. Hal ini dicapai dengan cara menarik baja dan menahannya pada beton sehingga membuat beton dalam keadaan tertekan.   Kombinasi  aktif    ini    menghasilkan  perilaku  yang lebih baik  dari individu kedua bahan itu sendiri. Baja  adalah bahan liat dan  dibuat untuk  bekerja  dengan   kekuatan  tarik yang tinggi  oleh  prategang.