PENANGANAN BANJIR LAHAR MERAPI

Gunung merapi terletak di utara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, merupakan gunung aktif yang mempunyai ketinggian + 2.968 m dari permukaan air laut. Erupsi yang dihasilkan gunung merapi bersuhu + 9000 celcius. Sampai saat ini muntahan lava vulkanik dari aktifitas harian kini telah mencapai 140 juta m3 (Bernas Jogya, 31/1/11). Hasil erupsi merapi yaitu berupa abu lava vulkanik yang menjadi sedimen di sungai-sungai. Sementara ini pengambilan sedimentasi lava vulkanik hanya sebatas pengerukan dengan alat berat yaitu backhoe, dikarenakan sedimentasi tersebut dapat dikategorikan sebagai limbah.  Pada lokasi gunung merapi daerah barat dan selatan merupakan daerah yang rawan terhadap ancaman erupsi gunung merapi, dimulai dari ancaman banjir lahar dingin di aliran hulu sungai sampai kehilir. Kemudian jumlah kandungan sedimentasi material vulkanik terbesar terdapat pada Sungai Gendol, Sungai Opak, Sungai Krasak dan Sungai Putih (Cyber News). Sementara ini pengambilan sedimentasi lava vulkanik hanya sebatas pengerukan dengan alat berat yaitu backhoe, dikarenakan sedimentasi tersebut dapat dikategorikan sebagai limbah. Oleh karena itu perlu penanganan yang maksimal. Salah satunya dengan pembangunan Sabo Dam terpadu.
      Gunung merapi merupakan gunung aktif yang meletus mengeluarkan material lava vulkanik yang terdiri dari agregat halus dan kasar. Bentuk gunung merapi yang terjal serta membentuk alur-alur sungai menjadikan material vulkanik membentuk kubah lava, kemudian ketika hujan, material tersebut terbawa oleh air hujan serta membawa material lain seperti pepohonan yang tumbang. Material tersebut membentuk sedimen dan mengalir menuju sungai-sungai dan yang berpotensi mengakibatkan banjir lahar dingin. 
      Kata “Lahar” berasal dari bahasa Indonesia yang merupakan material vulkanik mengendap pada hulu sungai sampai ke hilir sungai, untuk kalangan ahli vulkanologi internasional lebih dikenal dengan sebutan lava, yaitu campuran material vulkanik, berasal dari gunung api yang mengalir dengan kecepatan dan densitas tinggi sehingga mampu melanda dan membawa serta bongkah batu berdiameter sampai 2 meter. Letusan gunung merapi dapat mengakibatkan 2 macam bahaya, antara lain yang pertama adalah bahaya primer yaitu bahaya dari letusan material lava vulkanik yang terjadi di daerah zona produksi yang kemudian mengancam penduduk di daerah lereng gunung merapi serta mengalir dan terdistribusi didaerah zona transportasi yang kemudian akan mengakibatkan bahaya kedua yaitu bahaya sekunder, yaitu banjir lahar dingin yang terjadi diderah zona sedimentasi, Letusan merapi mengakibatkan terjadinya aliran piroklastik dari abu vulkanik (wedus gembel).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvjH8_-qsHbkMEGw9YVKmCCnZrRlceWKT2jeZ42zA34NFb7tU7P5wfdRvkF8swDlqH42JfuT-vsh1jUi8vkjyRzfVXsn84ZLwiyPxVKe0yCcQgLgAqEdTM3KFkdxpCHzT7Nqf4VMQJjWc/s320/v.bmp

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2HAjKVOljzMe5-NSWaVSfVjzh43AH_789pdLslBToqk4jOcI6_eU64i5lEM_WUGRvCaX0M2w3UJl_9KyZ8PU2XDrvYkYC7wjsr0PcfJoLluhDj8KWhRSH05kwBgInExZuHPSPv1eWJQQ/s320/sa.bmp

Aliran Piroklastik (Pyroclastic flow) yang sering disebut wedus gembel oleh penduduk sekitar gunung Merapi adalah merupakan suatu kejadian pergerakan cepat (luncuran) blok lava bersuhu tinggi > 1000 dan fragmen-fragmen kecil lainnya menuruni lereng gunung dengan kecepatan tinggi 10 hingga 300 km/jam sehingga sulit bagi manusia untuk menghindar ketika aliran piroklastik ini telah terjadi. Luncuran aliran piroklastik yang besar dapat mencapai jarak hingga 100 km. Berdasarkan besarnya volume material yang dikeluarkan dari kawah gunung maka aliran piroklastik dapat dikategorikan dalam tiga ukuran atau skala yaitu aliran piroklastik skala besar apabila volume yang dikeluarkan lebih besar 1 km3, skala menengah untuk volume antara 0,01-1 km3 dan skala kecil untuk volume lebih kecil 0,01 km3. Volume erupsi merapi diperkirakan mencapai 140 juta m3, hasil erupsi antara lain berbentuk batu-batu besar, pasir, lumpur dan kalau hujan dengan intensitas yang tinggi maka terjadi aliran debris (debris flow).  
Aliran Debris flow merupakan aliran campuran antara air (air hujan atau air yang lain) dengan sedimen konsentrasi tinggi yang meluncur kebawah melalui lereng atau dasar alur berkemiringan tinggi. Aliran ini seringkali membawa batu-batu besar dan batang-batang pohon, meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi dengan kemampuan daya rusak yang besar terhadap apa saja yang dilaluinya seperti bangunan rumah atau fasilitas lainnya sehingga mengancam kehidupan manusia. Aliran debris tidak terkait langsung dengan letusan gunung api, namun dapat terjadi di daerah vulkanik maupun non-vulkanik.
Sabo adalah suatu terminologi teknik dari bahasa Jepang untuk mengartikan pengendalian erosi dan pergerakan sedimen (erosion and sediment movement control). Sabo bekerja dengan sistem atau teknik untuk pengendalian erosi dan pergerakan sedimen (control the production and move of sand and gravel with a nature of disaster).(Tomoaki YOKOTA in "What is Sabo", Phosthumous Text on Sabo Works Vol 1, Febr 1988, VSTC-Directorate General of Water Resources Development, Directorate of Rivers).
Sabo dam adalah suatu struktur bangunan melintang sungai, sebagai salah satu bangunan pengendali sedimen yang memiliki peranan paling dominan mengendalikan sedimen dalam sistem Sabo. Fungsi Sabo antara lain, menangkap aliran debris atau lahar sehingga debit aliran menjadi berkurang. Selain itu, mengarahkan dan memperlambat kecepatan aliran, tempat pengendapan, pengarah aliran untuk mencegah penyebaran, dan membatasi terjadinya aliran debris atau lahar.
Sabo dam yang dibangun di daerah hulu sungai gunung menumpuk sedimen dan menekan produksi dan aliran sedimen. Sabo merupakan bangunan dam atau bangunan dengan pelimpas yang dibangun untuk mencegah bahaya banjir lahar dingin didaerah hilir. Selain sebagai pengendali lahar akibat letusan gunung berapi, sabo dam juga bermanfaat sebagai pengendali erosi hutan dan daerah pertanian serta mencegah bahaya longsor. Material pasir dan batu-batuan yang tertahan di sabo juga dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber penghasilan. Fungsi sabo dam secara lebih khusus adalah untuk menahan sementara lahar yang akan turun dari hulu ke hilir semaksimal mungkin. Kemudian lahar ini dialirkan sesuai kapasitas tampung bangunan hilir.
Sabo dam dibangun sepanjang sungai, semakin ke hilir kerapatannya semakin jarang. Lava dingin yang mengalir ke sungai akan tertahan di sabo. Apabila sabo pertama penuh, lava dingin akan melimpas ke sabo-sabo berikutnya. Dengan demikian, aliran lava dingin dapat diperlambat sehingga penduduk sekitar sungai masih memiliki cukup waktu untuk melakukan pengungsian. Selain itu, kerusakan di sekitar aliran sungai juga diharapkan dapat dikurangi.